Varietas Unggul dan Proses Pengolahan Lada Putih

Sebagai salah satu negara penghasil lada putih, Indonesia terus menggerakkan budidaya tanaman jenis biji-bijian tersebut. Dengan mengembangkan varietas-varietas unggul di berbagai daerah, agar produk yang dihasilkan lebih berkualitas dan layak diekspor.

Bahkan rencananya beberapa tahun ke depan, ekspor ke kawasan Asia akan diperbanyak jika produksi dari varietas terbaik meningkat.

Beberapa daerah yang dijadikan sentra produksi lada adalah Lampung, Bangka, Bengkulu, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.

Untuk kebutuhan dunia akan olahan Piper nigrum, Indonesia hanya mampu memenuhi 13 persen saja, sedangkan sisanya masih dikuasai Brasil dan China.

Varietas Unggul Lada Putih yang Sedang Dikembangkan

Buah lada di pohon
Gambar lada segar dari pixabay.com

Ada tujuh varietas lada putih yang terus dikembangkan di sejumlah daerah sentranya. Masing-masing punya karakter sendiri yang sangat baik. Seperti varietas Petaling 1, Petaling 2, Bengkayang, Chunuk, Ciinten, Lampung Daun Kecil dan Malonan.

1. Petaling I

Kelebihan dari varietas Petaling I adalah buah yang dihasilkan memiliki ukuran lebih besar jika dibandingkan ukuran normal. Panen baru bisa dilakukan setelah pohon berumur satu tahun ke atas, dan kebal terhadap penyakit kuning yang sering menyerang tanaman lada dan sejenisnya. Produksi dari varietas ini bisa mencapai 4,5 ton perhektar.

Daerah yang memproduksi varietas Petaling I meliputi Bangka Belitung, Lampung dan beberapa kawasan di Kalimantan Timur.

2. Petaling II

Hampir sama dengan varietas Petaling 1 yang tak mempan diserang penyakit kuning, varietas yang punya nama lain Jambi tersebut memiliki keunggulan umur panen yang lebih cepat yaitu delapan bulan. Ditambah pula hasil panen perhektarnya bisa mencapai 4,8 ton. Makanya banyak petani lebih memilih varietas II Petaling.

3. Bengkayang

Mampu beradaptasi pada segala cuaca dan iklim menjadi kelebihan varietas Bengkayang. Menyoal produksi, pada masa panennya bisa menghasilkan 4,67 ton perhektar. Memang masih di bawah Petaling II tapi soal bentuk dan rasa dinilai lebih menjanjikan untung besar.

4. Chunuk

Keunggulan dari varietas Chunuk adalah bisa dipanen sepanjang tahun. Beda dengan varietas lada putih lain yang hanya dua kali atau sekali setahun saja. Tapi memang produksinya hanya 1,97 ton perhektar. Sedangkan tentang kekuatan terhadap penyakit, cukup kuat.

5. Ciinten

Memiliki malai yang tergolong panjang menjadikan Ciinten mampu berproduksi sepanjang tahun dengan total produksi perpanennya mencapai 3,12 ton perhektar. Ciinten banyak dicari karena memiliki kadar piperin yang cukup tinggi yaitu mencapai 0,35 persen.

6. Lampung Daun Kecil

Salah satu penyakit pada tanaman lada adalah busuk pada bagian pangkal batang. Varietas Lampung ini sangat kebal terhadap penyakit tersebut dan mampu menghasilkan lada 3,86 ton perhektar setiap masa panen.

7. Malonan I

Kadar piperin varietas Malonan I merupakan yang tertinggi yaitu mencapai 1,06 persen. Produksi perpanennya 2,94 ton perhektar, dan dapat dipanen terus menerus sepanjang tahun.

Cara Mengolah Lada Putih

Cara mengolah lada
Mengolah lada gambar dari YouTube.com

Untuk menghasilkan produk lada putih terbaik dari varietas yang ada, perlu sistem pengolahan yang tepat. Mulai dari tahap merendam, mencuci, mengeringkan, membersihkan dan pengemasan.

Masing-masing memerlukan ketelitian tinggi.

1. Merendam

Proses perendaman dilakukan dengan cara memasukkan lada matang yang sudah dipanen ke dalam karung berbahan goni. Kemudian ditempatkan dalam bak yang dialiri air. Proses ini memakan waktu tujuh hingga 10 hari. Fungsinya untuk melunakkan bagian kulit lada saat proses pengupasan nanti.

Hal yang harus diperhatikan adalah air rendaman yang mengalir harus benar-benar bersih, supaya lada yang dihasilkan maksimal dan putih sempurna.

2. Mencuci

Proses selanjutnya adalah mencuci bersih lada yang sudah dialiri air. Caranya dengan memasukkan lada ke dalam ember dan lakukan pemisahan kulit dengan biji secara telaten. Setelah itu cuci di bawah air mengalir dengan tujuan memisahkan kulit dan biji. Kalau masih ada kulit atau tangkai buah yang tersisa, tiriskan lada menggunakan saringan air.

3. Mengeringkan

Pengeringan dilakukan dengan menjemur lada putih menggunakan tikar, atau tempat menjemur berupa tampah plastik yang dibuat lebih tinggi dari lantai. Lamanya proses adalah berkisar tiga hingga tujuh hari.

Selama proses pengeringan, bolak balik lada menggunakan sapu garukan padi, agar keringnya lebih merata. Tanda buah lada sudah kering adalah ketika ditekan hingga pecah akan terdengar bunyi garing seperti kerupuk .

4. Membersihkan

Setelah kering, lada kemudian diseleksi dengan cara ditampi menggunakan LOYANG rotan yang biasa digunakan untuk menampi beras. Gunanya agar semua sampah yang masih tersisa dapat terbuang, baik itu daun, kulit, hingga pasir yang lengket saat proses pengeringan.

Proses ini memakan waktu cukup lama dan butuh ketelitian yang maksimal untuk menghasilkan produk lada terbaik. apalagi jika orientasinya untuk bahan ekspor ke berbagai negara tetangga.

5. Mengemas dan Simpan

Produk lada yang sudah bersih dan kering, dimasukkan ke dalam wadah penyimpanan seperti karung dan disimpan dalam ruangan bersuhu normal. Jangan lupa untuk memberi alas di bagian bawah karung, agar wadah tak langsung menyentuh lantai dan membuat lada putih kembali lembab.

Biasanya untuk 100 kg lada yang sudah dipanen, bisa menghasilkan 25 kg sampai 40 kg lada putih bersih yang siap dijual. Semua tergantung mekanisme pengolahan yang dilakukan, semakin baik proses pengolahan akan semakin tinggi produk lada yang dihasilkan.

Prospek Lada Sebagai Produk Ekspor

Menyigi bagaimana prospek lada untuk menjadi komoditi ekspor utama Indonesia sangat bagus. Karena Di Asia saat ini Indonesia merupakan negara dengan luas lahan pengembangan lada terbesar mencapai 74,61 persen, sedangkan Vietman hanya memiliki lahan 19 persen sedangkan Malaysia 4 persen saja. Disamping itu ada faktor penunjang majunya sektor ekspor lada yang sangat signifikan.

Pertama yaitu produksi lada putih yang terus meningkat setiap tahun. Tercatat tahun 2016 produksi lada mencapai 82,17 ribu ton, sedangkan di tahun 2017 meningkat hingga 0,97 persen menjadi 82,96 ribu ton. Di tahun 2018 dan 2019 peningkatan juga terus terjadi sehingga Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan lada dunia hingga 20 persen dan berada di urutan ketiga setelah Brasil dan Vietnam.

Kedua adalah menurunnya impor lada yang dilakukan. Sebab Indonesia sudah mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. bahkan lima daerah sentra lada terus berbenah dan berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan dalam negeri tersebut. Seperti Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Timur Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan.

Ketiga karena masyarakat semakin paham tentang pentingnya budidaya lada. Sehingga tingkat antusias mereka jadi semakin tinggi. Terlihat dari jumlah penduduk yang bertanam lada di berbagai daerah terus bertumbuh. Saat ini saja sudah mencapai puluhan juta kepala keluarga yang tersebar di berbagai provinsi, yang memilih varietas unggul lada untuk dikembangkan.

Jika pemerintah terus mendorong produktivitas lada putih bukan tak mungkin dalam beberapa tahun ke depan Indonesia mampu menjadi eksportir utama di dunia. Tapi memang butuh koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat. Bukan saja dalam hal peningkatan produksi tapi juga pengembangan varietas yang lebih sempurna untuk dibudidayakan.

Tinggalkan komentar